​Pengobatan dari dalam tubuh/pikiran kita VI

Bagian keenam:
Kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas dalam Pengobatan Diri Sendiri

Bagaimana kita memandang diri kita sebagai individu sangatlah penting dalam upaya penyembuhan diri sendiri. Apabila kita melihat diri kita dibawah pengaruh dari perasaan-perasaan yang menyebabkan penyakit maka penyembuhan diri sendiri menjadi sulit untuk dilakukan. Sayangnya budaya dan sudut pandang kita mendukung perspektif ini. Kita melihat diri kita sendiri sebagai akibat dari kuman, virus, kelainan genetik atau cuaca. Kita juga cenderung berpikiran bahwa semua upaya penyembuhan bersumber dari luar tubuh kita, seperti contohnya dokter yang memberikan resep obat atau prosedur medis. Upaya-upaya ini terkadang membantu untuk menghilangkan gejala, tetapi juga kadang menjadi penyebab kematian sebagai efek sampingnya.

Tujuan dari ini semua adalah untuk membantu anda mengetahui penyebab dari suatu gejala dan kemudian mengatasinya dengan tujuan penyembuhan tanpa menciptakan masalah baru. Kebanyakan dari kita tidak menyadari adanya kekuatan dalam diri kita atas penyembuhan diri sendiri, yang sebenarnya hal ini didukung oleh ilmu pengetahuan tentang teori kuantum dan kebijakan kepercayaan kuno.

Pemikiran umum bahwa kita adalah mahluk yang tidak mempunyai kekuatan menjadikan potensi yang ada menjadi tidak terlihat. Kita akan melihat contoh kalimat-kalimat sebagai berikut untuk menggambarkan kelemahan kita:

“Apakah bahumu masih terasa mengganggu?” (Hal ini menggambarkan bahwa bahumu mempunyai kekuatan untuk menyebabkan gangguan yang dirasakan.)

“Saya akan memberikanmu pengobatan.” (Ini menggambarkan bahwa anda adalah bayi yang membutuhkan bantuan seseorang untuk merawat anda.)

“Anda berada dibawah tekanan akhir-akhir ini jadi minumlah obat-obat ini untuk membuatmu merasa lebih baik.” (Ini menggambarkan anda tidak dapat mengatasi tekanan itu sehingga anda membutuhkan obat-obatan itu untuk mengurangi gejala yang anda rasakan.)

“Marilah kita lihat gejalanya sementara waktu dan kita perhatikan apa yang terjadi.” (Kita lebih memberikan kuasa terhadap gejala yang kita alami, daripada diri kita sendiri untuk mengetahui apa yang sebenarnya harus kita lakukan.)

Dan pikirkan kata-kata yang kerap kita gunakan untuk diri kita:

“Saya flu karena tertular oleh orang dikantor.” (Anda merasa tidak punya kekuatan untuk melawan virus yang ada.)

“Sakit di punggung ini serasa membunuhku.” (Ini menggambarkan bahwa anda memberikan ijin bagi punggung untuk mencelakakan anda.)

“Penyebabnya adalah makanan yang saya makan.” (Makanan itu yang mengontrol sistem pencernaan kita.)

“Saya mendengar diberita bahwa hari ini adalah hari alergi yang sangat buruk. Saya tahu bahwa saya akan sangat menderita hari ini.” (Serbuk sari yang bertanggungjawab atas alergi atau beritanya itu sendiri.)

“Saya akan mendapatkan sakit yang sama seprti yang dialami oleh bapak/ ibu saya.” (Anda adalah korban faktor genetik; anda akan mengulang pola yang sama dari leluhur anda)

Seringnya pengulangan kalimat-kalimat diatas mendukung kepercayaan bahwa kita tidak mempunyai kuasa atas diri kita, yang akan menghasilkan penyakit dengan menyampaikan pesan-pesan tersebut kedalam sel-sel tubuh kita.

Apabila kita mempercayai bahwa kita adalah mahluk yang lemah maka akan mengakibatkan tidak hanya penyakit secara fisik tetapi juga penyakit mental, seperti depresi, kekhawtiran yang berlebihan, trauma, kecanduan, fobia dan lainnya. Pada kenyataannya, kita sebagai manusia sangat tergantung pada perasaan-perasaan itu sehingga kita berpikir pola pandang yang lain adalah salah, tidak mungkin, berlebihan atau bahkan gila. Sepertinya salah satu ketakutan terbesar kita adalah menerima kekuatan dalam diri kita.

Sekian dan terimakasih. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Pada pembahasan berikutnya kita akan melihat sudut pandang ilmu pengetahuan dunia tentang kesehatan dimasa lampau.

​Pengobatan dari dalam tubuh/pikiran kita V

Bagian kelima:
Dasar dari Penyembuhan Diri Sendiri

Menurut teori Quantum Physics yang mengatakan kita semua adalah satu di alam semesta ini. Hanya ada satu ruang dan semuanya terhubung satu sama lain, yang artinya bahwa tidak ada sesuatu apapun yang terpisah dari Yang Maha Kuasa, yang dikembangkan menjadi “Kesadaran” yang berperan di alam semesta ini. Kebenaran dari dari Penyembuhan Diri Sendiri melibatkan beberapa dimensi, yang melibatkan:

Cobalah berpikir gejala yang sedang dialami sebagai sebuah bahasa yang bisa dimengerti lalu buatlah kesepakatan yang berbeda dengan pesan tersebut.

Berikan pesan tersebut dengan penuh kesadaran kepada sel-sel dalam tubuh kita untuk mendukung proses penyembuhan.

Gunakanlah kekuatan dalam dirimu supaya lebih aktif, pilihlah kesadaran dalam dirimu untuk mengatasi penyebab dari permasalahan yang ada daripada menyerahkan kekuatan yang ada dalam dirimu kepada orang lain atau sesuatu yang lain.

Melalui langkah-langkah penyembuhan ini, kita mulai merubah identitas diri kita yang menyebutkan bahwa diri kita lemah dan jauh dari Sang Pencipta kita menjadi diri kita sebenarnya yang mempunyai potensi kekuatan yang sangat besar dalam penciptaan (melalui pikiran kita). 

Bagaimanapun juga tidak semua penyakit bisa kita atasi sendiri, dalam beberapa kasus kita memerlukan tindakan medis. Akan tetapi bukan berarti kita kehilangan kemampuan penyembuhan diri sendiri, karena penyembuhan lebih dari sekedar menghilangkan sebuah gejala. Dengan adanya berbagai macam gejala penyakit maka cara kita mengatasinya pun bervariasi. Terkadang kita memerlukan media dari luar tubuh kita, untuk membantu proses penyembuhan itu. Salah satu contoh dari pengalaman pribadi dr. Henry Grayson adalah pada saat beliau mengalami peradangan sendi dikakinya sehingga mengakibatkan adanya benjolan karena radang tersebut. Dokter menyarankan untuk diambil tindakan operasi, tapi beliau minta waktu untuk melakukan penyembuhan diri sendiri. Akhirnya beliau menemukan akar permasalahan dalam dirinya dan berhasil diselesaikan. Akan tetapi radang sendi itu masih ada, butuh waktu beberapa minggu untuk menemukan cara mengatasinya. Pada suatu pagi pada saat beliau berganti pakaian didalam kamarnya, beliau merasakan kakinya membaik untuk berjalan diatas karpet. Maka hal itu menginspirasi beliau untuk berjalan kaki diatas karpet setiap pagi. Beliau merasakan darah mengalir disekitar tulang yang meradang sehingga perlahan-lahan mengikis benjolan peradangan itu dan mengeluarkannya dari tubuh.

Setelah 6 minggu, benjolan itu mengecil dan kemudian hilang sama sekali. Beliau perlu mengatasi penyebab dari masalah benjolan itu, akan tetapi beliau juga harus memprogram ulang sistem informasi dalam tubuhnya untuk menciptakan penyembuhan yang menyeluruh. Pengalaman-pengalaman ini merupakan awal dari teknik penyembuhan diri sendiri yang beliau terapkan pada diri sendiri dan orang lain.

Kesimpulannya, pada beberapa kasus kita memerlukan pengobatan medis untuk menanggulangi suatu gejala tetapi bukan berarti kita gagal dalam melakukan penyembuhan diri sendiri, karena untuk mencapai penyembuhan yang menyeluruh kita tidak hanya mengobati gejala tetapi juga mengatasi akar dari penyakit itu sendiri. Lebih jauh lagi, penyembuhan diri sendiri bisa juga melibatkan media diluar tubuh kita. Pada edisi selanjutnya akan kita bahas luasnya kemungkinan-kemungkinan dalam penyembuhan diri sendiri. Sekian dan terimakasih, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua. 

​Pengobatan dari dalam tubuh/pikiran kita IV

Bagian keempat:
Pada kesempatan ini akan kita bahas tentang pengalaman sakit yang di alami dr. Henry Grayson setelah beberapa tahun kemudian. Pada saat itu beliau menderita sakit pinggang, dari gejala yang ringan dan kemudian memburuk sehingga pada suatu hari beliau harus berjalan perlahan-lahan sejauh 6 blok menuju kantornya. Berbagai macam upaya ditempuh dari chiropractor, terapi pijat, obat relaksasi otot dan sebagainya akan tetapi tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya rasa sakit itu memuncak sehingga beliau harus masuk rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan dokter beliau mengalami perubahan jaringan lunak yang akut di tulang belakangnya sehingga harus dioperasi, karena apabila tidak dilakukan operasi maka beliau tidak akan pernah bisa berjalan lagi.

Beliau merasa sangat terkejut dan trauma karena diketahui pada saat itu bahwa 68% orang yang menjalani operasi tulang belakang akan semakin parah. Beliau tidak mau mengambil resiko itu karena beliau sangat menyukai olahraga dan tidak ingin menempuh resiko untuk menjalani pengobatan dengan efek samping yang bisa memperparah keadaan. 

Tiba-tiba beliau tersadarkan akan kemampuannya untuk memyembuhkan diri sendiri, sesuatu yang sudah terlupakan sejak digunakan untuk gejala radang dan flu belum pernah beliau gunakan untuk gejala yang lainnya. Pikiran bawah sadar kita, musuh didalam diri kita yang tanpa kita sadari telah menghalangi kemampuan kita untuk menyembuhkan diri kita sendiri. Maka beliau mengajukan 4 pertanyaan itu kembali:

Mengapa saya mengalami gejala ini sekarang?

Apa yang akan dihasilkan dari gejala yang saya alami ini?

Apa yang tidak bisa saya kerjakan karena gejala yang saya alami ini?

Emosi apa yang diekspresikan dalam gejala ini?

Beliau sampai pada 4 hal yang harus dilakukan, yaitu: ada seorang dua orang teman yang mana beliau merasa bahwa mereka telah mengabaikan beliau. Beliau memutuskan untuk mengatasi trauma terhadap dua orang tersebut dari dalam dirinya sebelum menemui mereka secara personal. Beliau membuat komitmen untuk menyelesaikanya sesegera mungkin. Kemudian beliau mewaspadai dua hal dari gaya hidupnya yang perlu perhatian khusus, yaitu kesenangan beliau akan olahraga, tetapi beliau tidak pernah melakukan peregangan. Dan satu hal lagi yaitu tekanan dalam hidup dan pekerjaan. Maka beliau berjanji pada dirinya sendiri untuk melakukan yoga dan meditasi untuk mengatasi dua hal tersebut.

Sekali lagi keajaiban terjadi, setelah beliau membuat komitmen tersebut, beliau mulai merasa lebih baik. Perubahan dalam pikirannya yang telah membuat perubahan dalam tubuhnya. Beliau mulai bekerja lagi dalam beberapa hari, dan bebas dari rasa sakit dalam dua minggu setelah membuat komitmen tersebut. Setelah itu beliau selalu menggunakan metode tersebut untuk semua gejala baik ringan maupun berat.

Kesimpulannya, masing-masing dari kita mempunyai kemampuan untuk melakukan penyembuhan diri sendiri. Akan tetapi kadang pikiran bawah sadar kita yang menghalangi kesadaran kita untuk melakukan proses kesembuhaan tersebut. Sekian dan terimakasih, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

​Pengobatan dari dalam tubuh/pikiran kita III

Bagian ketiga:
Kali ini kita akan mengulas tentang pengalaman pribadi dr. Henry Grayson, bermula pada saat remaja sampai usia sekitar 25 tahunan, beliau seringkali  menderita radang tenggorokan dan flu sekitar 3 kali atau lebih dalam setahun. Kemudian pada suatu hari yang sangat dingin ketika beliau sedang memperbaiki pagar, gejala radang dan flunya kambuh, padahal beliau akan menghadapi ujian dalam beberapa hari kedepan dan telah menyediakan waktunya setiap akhir pekan selama beberapa bulan terakhir untuk belajar. Pada saat itu beliau sedang mempertimbangkan untuk tidak mengikuti ujian tersebut karena radang tenggorokan yang semakin terasa parah. Beliau bisa saja menyalah orang yang menyebarkan virus radang tersebut atau orang yang telah bersin dihadapannya sehari sebelumnya, atau bisa saja langsung meminta resep antibiotik ke dokter seperti yang sudah sering dilakukan. Tetapi kali ini beliau memikirkan sesuatu yang lain, daripada mencari penyebab (mencari kesalahan orang yang telah membawa virus) atau meminta obat. Beliau mulai memikirkan bahwa tubuh tidak bisa dipisahkan dari pikiran yang mana merupakan awal dari pengalaman proses penyembuhan diri sendiri yang beliau lakukan.

Maka beliau mulai membuat beberapa pertanyaan bagi dirinya sendiri dalam hubungannya dengan radang tenggorokan yang dialaminya:

Mengapa saya mengalami gejala ini sekarang?

Apa yang akan dihasilkan dari gejala yang saya alami ini?

Apa yang tidak bisa saya kerjakan karena gejala yang saya alami ini?

Dengan pertanyaan yang terakhir jawabannya jelas bahwa beliau tidak dapat mengikuti ujian yang telah dipersiapkannya dengan matang, dan beliau jelas tidak menginginkan hal tersebut. Kemudian beliau membuat pertanyaan keempat:

Emosi apa yang diekspresikan dalam gejala ini?

Pada saat itu beliau sedang berada dihalaman belakang dan melihat tetangganya yang sedang berada didapur dengan posisi membelakanginya. Tiba-tiba dia merasa bersalah, teringat bahwa dia berjanji untuk membantu ayah tetangganya tersebut untuk menggeser perabotan dirumahnya. Pada saat itu beliau merasa bersalah karena dibawah cuaca yang sangat buruk beliau memperbaiki pagarnya tetapi belum mambantu tetangganya, padahal beliau memang berencana akan membantu menggeser perabotan itu setelah ujian. Beliau merasa bersalah karena rencana tersebut belum sempat disampaikan kepada tetangganya, sehingga dikhawatirkan terjadi salah paham.  Kekhawatiran tersebut secara tidak sadar terproyeksikan kedalam tubuh dan menimbulkan radang.

Kemudian beliau mulai berpikir : Apakah saya perlu menghukum diri saya dengan radang tenggorokan dan flu karena merasa bersalah? Tidak, saya tidak mau mendapatkan hukuman seperti ini hanya untuk memperkuat rasa bersalah saya. Saya akan menelpon tetangga saya segera setelah saya selesai memperbaiki pagar dan memberitahunya bahwa saya tidak lupa akan janji saya untuk menggeser perabotan rumahnya, tapi akan saya lakukan pada hari selasa setelah ujian saya dihari senin.

Luar biasa sekali, dalam waktu 25 menit setelah mengambil keputusan itu untuk mengatasi rasa bersalahnya, radang tenggorokan beliau sembuh, dan itu pertamakalinya selama bertahun-tahun radang tersebut tidak menjadi flu yang parah. Akhirnya beliau berkesimpulan bahwa dia tidak perlu untuk mengalami radang lagi karena beliau menggunakan metode itu tiap kali menghadapi gejala-gejala yang sama.

Kesimpulannya kunci utama kesehatan kita bukanlah terletak pada tubuh ataupun suatu permasalahan yang kita hadapi, tetapi terletak pada kesadaran kita. Sebagai tambahan pada saat saya mulai menulis artikel ini saya sedang radang dan flu juga, sudah 2 kali ke dokter dan diberi antibiotik tapi belum sembuh juga. Segera saya praktekkan metode diatas, luar biasa sekali sampai dengan tulisan ketiga ini saya masih bertahan dan berangsur sembuh tanpa obat maupun antibiotik. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, sekian dan terimakasih. Like, komen dan subscribe ya agar selalu update 👍👍👍

​Pengobatan dari dalam tubuh/pikiran kita II

Bagian kedua:
Pada artikel pertama kita membahas tentang penyakit-penyakit yang ditimbulkan karena efek dari stress/ trauma. Maka pada kesempatan ini akan kita bahas tentang bagaimana kita melepaskan diri dari trauma tersebut sehingga bisa meningkatkan sistem imun tubuh kita dalam mengatasi penyakit. 

Ada beberapa pertanyaan penting yang harus kita renungkan:

Mengapa kita seringkali mengabaikan nasehat medis yang notabene sudah kita ketahui kebenarannya?

Mengapa diet sehat, olahraga, yoga, meditasi, dll seringkali gagal walaupun kita bertujuan untuk melaksanakannya?

Mengapa gejala-gejala sakit secara fisik atau masalah emosi sangat sulit dihilangkan, bahkan setelah bertahun-tahun melakukan terapi?

Permasalahan ini dapat diibaratkan sebagai berikut, apabila ditaman kita penuh oleh alang-alang (rumput liar) dan kita menanam bunga disitu maka pada akhirnya bunga itu tidak akan bertahan lama. Pertama-tama kita harus mencabut semua alang-alat tersebut agar kita bisa membuat taman bunga. Alang-alang disini adalah seperti yang kita bahas pada artikel pertama yaitu stress (jaringan dari trauma; kepercayaan akan sesuatu hal yang negatif, serangkaian pemikiran dan emosi, mengartikan sesuatu atas persepsi diri sendiri dan kadang merupakan hasil dari cara/ pola menghadapi tekanan dalam keluarga) yang kebanyakan ada dialam bawah sadar kita.

Disini, akan kita bahas tentang bukti adanya trauma dibawah alam sadar kita (95% dari perilaku kita baik itu positif maupun negatif adalah diluar kesadaran kita). Pada saat seminar yang diadakan oleh dr. Henry Grayson di Boston, beliau membuka seminar dengan pertanyaan, “Siapakah diantara peserta seminar yang ingin menikmati hidup sehat dan bahagia?” semua peserta mengangkat tangan mereka. Kemudian beliau memberikan pertanyaan berikutnya, “Siapakah diantara peserta seminar yang merasa berhak dan nyaman untuk menikmati hidup sehat dan bahagia?” hasilnya mengejutkan karena semua peserta merasa tidak yakin apakah mereka berhak atau nyaman untuk menjalani hidup sehat dan bahagia. Bahkan 82% dari peserta merasa tidak yakin apakah mereka berhak dan merasa nyaman menjalani kehidupan tersebut.

Mengacu pada filosofi Friedrich Nietzsche, yang mengatakan bahwa orang yang paling sering kita bohongi adalah diri kita sendiri. Ini bukan berarti kita adalah seorang pembohong besar, akan tetapi karena 95% dari tingkah laku kita, baik itu positif maupun negatif adalah diluar kesadaran kita. Oleh sebab itu kita harus dapat menerjemahkan bahasa tubuh kita untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, daripada hanya sekedar mengobati sebagian dari tubuh kita (yang sakit) saja.

Pada artikel selanjutnya akan kita bahas mengenai, bagaimana kita belajar untuk menyembuhkan diri kita sendiri. Sekian dan terimakasih, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Pengobatan dari dalam tubuh dan pikiran kita

Bagian pertama:
Kali ini kita akan mengulas artikel yang ditulis oleh dr. Henry Grayson tentang mengobati diri sendiri dengan menciptakan energi dari dalam tubuh agar dapat dikeluarkan untuk menunjang kesehatan kita. Dewasa ini banyak penyakit yang kita alami berhubungan dengan stress, contohnya penyakit-penyakit seperti; sakit perut, sakit otot dan persendian, sakit pinggang, darah tinggi, meningkatnya detak jantung, meningkatnya kolesterol, meningkatkan resiko serangan jantung, meningkatnya emosi seperti: mudah marah, mudah panik, trauma, depresi, gelisah, lemah, tulang keropos, melemahnya libido; khususnya menurunkan sistem imunitas tubuh yang merupakan akar dari segala penyakit, seperti halnya kanker. 

Lebih jauh lagi kita akan menggali penyebab tersembunyi dari stress itu sendiri, dimana masing-masing orang mempunyai ketahanan yang berbeda, karena stress berhubungan dengan reaksi kita terhadap suatu masalah, daripada masalah itu sendiri. Contohnya dengan permasalahan yang sama akan memberikan dampak stress yang berbeda pada masing-masing individu. Stress sebenarnya adalah jaringan dari trauma; kepercayaan akan sesuatu hal yang negatif, serangkaian pemikiran dan emosi, mengartikan sesuatu atas persepsi diri sendiri dan kadang merupakan unduhan dari cara/ pola menghadapi tekanan dalam keluarga. Stress menstimulasi penyakit, dan obat tidak menghilangkan stress itu sendiri. Obat hanya meringankan penderitaan secara fisik, tetapi tidak benar-benar menyembuhkan dan terkadang menimbulkan penyakit lain (efek samping). Apabila kita benar-benar berharap untuk mendapatkan kesehatan dan kebahagiaan kita harus mengatasi penyebab stress itu sendiri, daripada hanya sekedar meminum obat.

Pada artikel selanjutnya akan kita bahas tentang cara menghilangkan trauma dalam diri kita. Sekian dan terimakasih.

Mengapa dibuat Rumit?

Banyak hal dalam hidup yang sebenarnya sederhana tetapi kita manusia membuatnya menjadi sangat sulit. Apasaja contohnya? Mari kita bahas:

1. Kepengen makan enak tidak punya duit? 

Definisi enaknya seperti apa dulu? Belum tentu makan di restoran mahal enak loh. Sudahlah makan semampu dan seadanya budget aja. Orang kaya aja kepengen sehat sampe beli makanan aja yang tawar (diet mayo), makanan tanpa daging (vegetarian) dan lain-lain. Masa udah pas-pasan malah mau cari penyakit dengan makan enak. Masuk akal kan???

2. Putus cinta?

Jangan galau manusia didunia masih banyak, siapa tau yang berikutnya lebih baik.

3. Dipecat dari perusahaan tempat anda bekerja?

Beruntung anda sudah perna kerja, banyak diluar sana yang bahkan belum pernah bekerja sejak lulus. Bisa juga ada rencana lain yang lebih baik buat anda.

4. Mobil anda tergores motor?

Banyak yang stress dan emosi gara- gara mobilnya tergores atau penyok. Sebenarnya itu adalah termasuk salah satu resiko kita punya mobil, apa yang anda risaukan? Anda jangan berharap memakai sesuatu akan mengkilat tanpa cacat selamanya bukan? Dipakai kok wajar saja, bahkan memakai sepatupun ada resiko terinjak sepatu lain ataupun tergores aspal kan? Bukan berarti kita tidak berhati-hati lho tetapi jangan berlebihanlah yang penting penumpang selamat kan? Syukuri saja.

5. Bertengkar dengan teman?

Ya itu merupakan resiko dalam bersosialisasi hendaknya kita sadari saja bahwa masing-masing individu adalah unik “ya orangnya mememang begitu” mau diapain lagi. 


6. Melakukan kesalahan? 

Toh sudah terjadi, belajar dari situ saja. Dipikirkan terus juga tidak akan mengubah keadaan.

7. Mengalami musibah?

Setiap manusia pasti mengalami ujian dalam hidup, seperti kita sekolah pasti ada ujian kan, ya jalani saja supaya lulus. Apa mau tinggal kelas???  
Itu hanyalah beberapa contoh saja intinya janganlah berkutat pada hal yang sudah terjadi, cobalah untuk membiarkannya berlalu dengan belajar dari kejadian tersebut. Seperti halnya ungkapan tidak ada pesta yang tidak berakhir, demikian pula dalam hidup, kita tidak bisa mengharapkan kesenangan saja dalam hidup kita. Terima dan jalani dengan penuh rasa syukur akan lebih mudah. Sekian dan terimakasih semoga bisa berguna bagi anda

Gaya hidup yang merepotkan

​Gaya Hidup Udin

Pada suatu hari Kang Haris ketemu Udin diwarung lagi utak atik hape, ditanyalah si Udin:
Kang Haris : Lagi ngapain din?

Udin           : Main Instagram

Kang Haris : Iya diapain?

Udin            : Biar pengikutnya banyak (matanya tetep aja melototin hape)

Kang Haris : Gampang din, kasi hashtag “lifestyle”

(Udin mulai tertarik minta diajarin tuh buat hashtag)

Udin            : Makasih ya Kang, I lup yu pul dah 😘
Selang 1 bulan ketemu lagi kang Haris ama udin diwarung yang sama, mukanya kusut banget.

Kang Haris : Kenapa din? Itu pengikutnya udah banyak kayanya.

Udin            : Bangkrut aku kang, gara-gara “lifestyle”

Kang Haris : Kenapa din? Kok bawa-bawa lifestyle

Udin            : “lifestyle” kan hidup yang bergaya tuh, aku geseklah kartu kredit si mimin buat beli celana lepis, kacamata item ama makan di kafe tiap malem ama mimin, sekalianlah mimin aku dandanin biar bergaya kang. Sekarang tagihan siapa yang bayar kang??? 

Kang Haris : Aduh udin, lifestyle itu gaya hidup bukan hidup yang bergaya!!! Kamu masukin aja potret hidupmu apa ada, lifestyle ala udin gitu. Aduh gimana sih kamu din. Kamu pake celana pendek juga itu lifestyle udin, makan ikan asin juga lifestyle udin. Aduh diiinnn…..

Nah berabe kan kalau udh kaya si Udin??? Hayo siapa diantara kita yang kaya si Udin??? Gaya hidup mu adalah pilihanmu, pilih yang bijaksana ya bro and sis. Ini gaya hidupmu, bukan orang lain.

Yoga

Yoga dan manfaatnya


Apa itu yoga?

Yoga berasal dari bahasa sansekerta yang artinya memusatkan pikiran agar bisa mengendalikan panca indera, sehingga diperlukan konsentrasi penuh untuk dapat mengontrol dan mengatur agar dapat tercipta keselarasan dan keseimbangan antara jiwa, pikiran dan tubuh. Lebih jauh lagi yoga merupakan bersatunya sang hamba dengan sang Maha Pencipta yang dapat dipahami melalui teknik meditasi dan asana atau olah tubuh (gerakan-gerakan untuk membantu mengenali diri sendiri sehingga lebih dekat dalam mengenal Sang Pencipta.


Sejarah yoga

Yoga dipercaya berasal dari India sekitar 3.000 SM dan banyak praktisinyang meyakini munculnya jauh sebelum itu. Adapun orang yang pertamakali membukukan yoga adalah Patanjali, yang dikenal dengan sistem Raja Yoga yang intinya mengenainpengendalian pikiran. Dalam perkembangannya yoga menjadi beberapa aliran dengan teknik olah tubuh dan meditasi. 


Di negara barat yoga mulai dikenal sejak 30 tahun terakhir, sedangkan di Indonesia mulai dikenal sejak tahun 1990an. Perkembangan yoga khususnya dijakarta terjadi pada saat krisis ekonomi pada pertengahan tahun 90an dimana banyak orang menjadi stress karena tekanan ekonomi, sehingga mereka berpaling ke yoga untuk penyembuhan alami. Selain itu yoga masuk ke indonesia karena referensi dari anak-anak Indonesia yang sekolah diluar negeri yang sudah merasakan manfaatnya. 


Apakah yoga merupakan olah raga?

Yoga yang banyak dikenal sekarang ini adalah asana (olah tubuh). Menurut pendapat beberapa master yoga , yoga tidak bisa disebut sebagai olahraga karena dalam mencapai posisi-posisi tertentu dalam yoga bukan hasilnya yang terpenting tetapi lebih pada prosesnya. Kesimpulannya,kita tidak memaksa tubuh kita untuk mencapai posisi tertentu, tetapi kita harus menyelaraskan tubuh dan pikiran kita untuk melakukannya. Lebih jauh lagi banyak atlet yang mempelajari yoga untuk mendukung latihan mereka ataupun mendukung pemulihan akibat cedera. Jadi kesimpulannya yoga bukan olahraga tapi membantu kita dalam latihan olah raga. 


Apakah manfaat yoga?

Ada banyak sekali manfaat yoga diantaranya adalah:

1. Media relaksasi, karena gerakan-gerakan yoga yang perlahan dan biasanya diiringi musik yang lembut membuat kita merasa rileks, tenang dan santai.

2. Mencegah dan mengurangi stress, sehingga lebih santai dan tenang dalam menghadapi tekanan hidup.

3. Menjaga kebugaran tubuh dan menambah stamina

4. Meningkatkan penguasaan emosi dengan mengembangkan emosi positif

5. Meningkatkan konsentrasi dan daya ingat

6. Melancarkan peredaran darah dengan meningkatkan kinerja jatung

7. Memperindah bentuk tubuh dengan membakar lemak dan mengencangkan otot

8. Meningkatkan fungsi pernapasan dan mengoptimalkan fungsi organ tubuh

9. Meningkatkan fleksibilitas tubuh dan persendian

10. Menguatkan tulang dan mencegah osteoporosisi

11. Mencegah diabetes dengan menurunkan kadar gula berlebihndan kolestrol

12. Berguna bagi kulit agar kencang, halus dan sehat


Demikian sekilas info tentang yoga, berminatkah anda menjadikannya gaya hidup? Sekian dan terimakasih

Media Sosial

Media sosial, apakah itu?

Banyak orang menyingkatnya menjadi ‘medsos’ apa itu sebenarnya medsos? Media sosial adalah sarana komunikasi didunia maya (internet) dimana para penggunanya (user) dengan mudah bisa saling berinteraksi, berbagi dan bertukar informasi tanpa dibatasi tempat dan waktu. Adapun karakteristik atau ciri-cirinya adalah sebagai berikut: 

Pesan bisa disampaikan untuk lebih dari satu orang atau umum (banyak orang).

Pesan yang disampaikan bebas.

Pesan bisa disampaikan dengan cepat.

Penerima pesan yang menentukan waktu interaksi.

Pertumbuhan media sosial dewasa ini sangatlah cepat hal ini karena beberapa faktor, diantaranya adalah: 

Dukungan perangkat yang relatif murah, anda bisa mengakses medsos darimana saja walaupun dengan modal smartphone murah sekalipun

Kebutuhan manusia untuk memposisikan dirinya dalam kehidupan sosial

Keinginan untuk selalu up to date atau menjadi tidak ketinggalan jaman ataupun berita didalam era digital ini
Pertumbuhan media sosial yang luar biasa cepat tentunya membawa beberapa dampak dalam kehidupan kita, baik itu positif ataupun negatif. Dibawah ini akan kita ulas dampak-dampak tersebut:

Dampak Positif

Mempererat hubungan sosial, hal ini karena dalam media sosial kita tidak mengenal batasan tempat dan waktu, sejauh apapun kita dapat langsung berinteraksi dengan teman, saudara maupun keluarga.

Menambah pengetahuan dan memperluas sudut pandang kita, dengan membaca berita-berita dari berbagai penjuru dunia, membaca sejarah dan budaya dari berbagai belahan dunia, dan lain-lain akan mengembangkan opini-opini baru serta membantu kita dalam memahami dan memperluas sudut pandang kita.

Menyediakan informasi secara cepat, tepat dan akurat (dengan sumber yang bisa dipercaya) kita dapat mencari pekerjaan, beasiswa, sekolah, dan sebagainya. Demikian pula sebaliknya bisa menjadi sarana untuk berpromosi akan produk dan jasa yang kita miliki.

Menyediakan solusi ataupun pesan-pesan moral yang dapat bermanfaat bagi kehidupan sosial kita, dimana sekarang banyak motivator-motivator maupun pemuka agama yang berbagi pesan dalam media sosial.

Menyediakan berbagai informasi, kadang yang paling konyol sekalipun. Apabila kita membutuhkan informasi darurat dan malu bertanya atau tidak tahu harus bertanya pada siapa kita bisa mendapatkannya melalui media sosial.
Dampak negatif

Dengan kemudahan berkomunikasi dalam dunia maya (media sosial) membuat generasi muda menjadi malas berkomunikasi dalam dunia nyata, sehingga mereka terbentuk menjadi pribadi yang egois atau cenderung mementingkan diri sendiri.

Banyak penipuan yang bisa dilakukan dalam dunia maya karena tidak adanya keperluan untuk mengenal secara fisik satu sama lain.

Pornografi semakin merajalela dengan tidak adanya batasan informasi dalam media sosial.
Itulah dampak-dampak media sosial dalam kehidupan kita. Kita tidak bisa menolak dan menghambat kemajuan teknologi. Semua hal didunia pasti membawa dampak positif dan negatif. Hanya kita yang dapat menentukan dan memilih gaya hidup kita, maka pilihlah dengan bijaksana. Waspadai dan hindarilah dampak negatif medsos, fokuslah pada dampak positifnya manfaatkan untuk mengembangkan potensi diri.